Minggu, 23 Juni 2013

KEBAKARAN HUTAN

LONA WINDIANA – NIM 13040112140129 – kelas E

JURUSAN ILMU PERPUSTAKAAN

FAKULTAS ILMU BUDAYA UNVERSITAS DIPONEGORO


ABSTRAK

Kebakaran telah terjadi karena efek dari petir, manusi dan lain sebagainya. kebakaran menyebabkan berkurangnya spesies hewan dan tumbuhan, terganggunya produktivitas, kesehatan menurun dll. upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan penyuluhan, dan menjaga kelestarian hutan.

Keyword: Kebakaran, Hutan, Api

BAB I

PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang Masalah

Kebakaran hutan adalah sebuah kebakaran yang terjadi di alam liar, tetapi juga dapat memusnahkan rumah-rumah dan lahan pertanian disekitarnya. Penyebab umum termasuk petir, kecerobohan manusia dan pembakaran. Musim kemarau dan pencegahan kebakaran hutan kecil adalah penyebab utama kebakaran hutan besar.
Belakangan ini kebakaran hutan semakin menarik perhatian dunia Internasional sebagai isu lingkungan dan ekonomi, kebakaran dianggap sebagai ancaman potensial bagi pembangunan berkelanjutan karena efeknya secara langsung bagi ekosistem.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun beberapa masalah atau aspek-aspek yang akan dibahas di dalam karya tulis ini, diantaranya :
a.    Apa yang menyababkan terjadinya kebakaran hutan ?
b.    Ekosistem apa saja yang terkena dampak dari kebakaran hutan tersebut ?
c.    Bagaimana supaya tidak terjadi kebakaran hutan ?
d.   Bagaimana cara menangani kebakaran di hutan ?
e.  Hal-Hal apa saja yang dilakukan apabila terjadi kebakaran hutan ?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan dibuatnya laporan ini diantaranya untuk: 
Mengetahui tentang sebab dan akibat dari terjadinya kebakaran hutan;
Mengetahui ekosistem apa saja yang terkena dampak dari kebakaran hutan tersebut;
Konservasi hutan yang lebih baik serta melakukan pencegahan hal-hal yang menyebabkan terjadinya kebakaran hutan;
Mengetahui apa yang dimaksud dengan kebakaran hutan.

1.4  Ruang Lingkup

Didalam laporan ini membahas beberapa aspek, yaitu:
a.       Sebab dan pengaruh kebakaran hutan bagi ekosistem;
b.      Cara mencegah dan menangani kebakaran hutan.


1.5  Manfaat penelitian

Kami berharap dalam laporan ilmiah yang telah kami buat dapat memberikan manfaat kepada pembaca seperti: 
Pembaca dapat mengenal kebakaran hutan dengan lebih dalam dan serius;
Pembaca dapat mengetahui sebab-akibat dari kebakaran hutan;
Pembaca dapat melakukan pencegahan untuk kebakaran hutan.


BAB IV

HASIL PEMBAHASAN


4.1 Pengaruh Kebakaran Pada Keanekaragaman Hayati

A.  Kerugian yang ditimbulkannya

Kebakaran hutan akhir-akhir ini menjadi perhatian internasional sebagai isu lingkungan dan ekonomi khususnya setelah terjadi kebakaran besar di berbagai belahan dunia tahun 1997/98 yang menghanguskan lahan seluas 25 juta hektar. Kebakaran tahun 1997/98 mengakibatkan degradasi hutan dan deforestasi menelan biaya ekonomi sekitar US $ 1,6-2,7 milyar dan biaya akibat pencemaran kabut sekitar US $ 674-799 juta. Kerugian yang diderita akibat kebakaran hutan tersebut kemungkinan jauh lebih besar lagi karena perkiraan dampak ekonomi bagi kegiatan bisnis di Indonesia tidak tersedia. Valuasi biaya yang terkait dengan emisi karbon kemungkinan mencapai US $ 2,8 milyar.

Hasil perhitungan ulang kerugian ekonomi yang dihimpun Tacconi (2003), menunjukkan bahwa kebakaran hutan Indonesia telah menelan kerugian antara US $ 2,84 milayar sampai US $ 4,86 milyar yang meliputi kerugian yang dinilai dengan uang dan kerugian yang tidak dinilai dengan uang. Kerugian tersebut mencakup kerusakan yang terkait dengan kebakaran seperti kayu, kematian pohon, HTI, kebun, bangunan, biaya pengendalian dan sebagainya serta biaya yang terkait dengan kabut asap seperti kesehatan, pariwisata dan transportasi.

B.  Pengaruh Pada Keanekaragaman Hayati

Kebakaran hutan membawa dampak yang besar pada keanekaragaman hayati. Hutan yang terbakar berat akan sulit dipulihkan, karena struktur tanahnya mengalami kerusakan. Hilangnya tumbuh-tumbuhan menyebabkan lahan terbuka, sehingga mudah tererosi, dan tidak dapat lagi menahan banjir. Karena itu setelah hutan terbakar, sering muncul bencana banjir pada musim hujan di berbagai daerah yang hutannya terbakar. Kerugian akibat banjir tersebut juga sulit diperhitungkan.

Berdasarkan hasil penafsiran citra satelit Landsat 7 ETM+ tahun 2002/2003, total daratan yang ditafsir adalah sebesar 187,91 juta ha kondisi penutupan lahan, baik di dalam maupun di luar kawasan, adalah :
Hutan 93,92 juta ha (50 %), Non hutan 83,26 juta ha (44 %), dan Tidak ada data 10,73 juta ha (6 %). Khusus di dalam kawasan hutan yaitu seluas 133,57 juta ha, kondisi penutupan lahannya adalah sebagai berikut : Hutan 85,96 juta ha (64 %), Non hutan 39,09 juta ha (29 %) dan Tidak ada data 8,52 juta ha (7 %). (BAPLAN, 2005)

Kebakaran hutan Indonesia pada tahun 1997/98 saja telah menghanguskan seluas 11,7 juta hektar. Kebakaran terluas terjadi di Kalimantan dengan total lahan terbakar 8,13 juta hektar, disusul Sumatera, Papua Barat, Sulawesi dan Jawa masing-masing 2,07 juta hektar, 1 juta hektar, 400 ribu hektar dan 100 ribu hektar (Tacconi, 2003). Kebakaran hutan setiap tahunnya telah memberikan dampak negatif bagi keanekaragaman hayati. Berbagai jenis kayu kini telah menjadi langka. Kayu eboni (Dyospyros ebenum dan D. celebica), kayu ulin (Eusyderoxylon zwageri), ramin (Gonystylus bancanus), dan beberapa jenis meranti (Shorea spp.) adalah contoh dari beberapa jenis kayu yang sudah sulit ditemukan di alam. Selain itu, puluhan jenis kayu kurang dikenal (lesser-known species) saat ini mungkin telah menjadi langka atau punah sebelum diketahui secara pasti nilai/manfaat dan sifat-sifatnya.

Selama beberapa dekade, hutan-hutan Dipterocarpaceae di Indonesia sering mengalami kebakaran baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja yang berdampak langsung dengan hilangnya sejumlah spesies flora dan fauna tertentu.

C. Pengaruh Terhadap Sosial, Budaya dan Ekonomi

1. Hilangnya sejumlah mata pencaharian masyarakat di dan sekitar hutan

Sejumlah masyarakat yang selama ini menggantungkan hidupnya dari hasil hutan tidak mampu melakukan aktivitasnya. Asap yang ditimbulkan dari kebakaran tersebut sedikit banyak mengganggu aktivitasnya dan hal tersebut tentu saja ikut mempengaruhi penghasilan yang biasa mereka dapatkan dari aktivitas sehari-harinya.

Terganggunya kesehatan
Peningkatan jumlah asap secara signifikan menjadi penyebab utama munculnya penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Gejalanya bisa ditandai dengan rasa sesak di dada dan mata agak berair. Untuk Riau kasus yang paling sering terjadi menimpa di daerah Kerinci, Kabupaten Pelalawan (dulu Kabupaten Kampar) dan bahkan di Pekanbaru sendiri lebih dari 200 orang harus dirawat di rumah sakit akibat asap tersebut.

Produktivitas menurun
Munculnya asap juga menghalangi produktivitas manusia. Walaupun kita bisa keluar dengan menggunakan masker tetapi sinar matahari dipagi hari tidak mampu menembus ketebalan asap yang ada. Hal ini tentu saja menyebabkan waktu kerja seseorangpun berkurang karena ia harus menunggu sedikit lama agar matahari mampu memberikan sinar terangnya. Ketebalan asap juga banyak mengganggu aktivitasnya sehari-hari.

D. Pengaruh Terhadap Ekologis dan Kerusakan Lingkungan

1. Hilangnya sejumlah spesies 
Kebakaran bukan hanya memusnahkan berjenis-jenis pohon dan berbagai jenis habitat satwa lainnya. Umumnya satwa yang ikut musnah ini akibat terperangkap oleh asap dan sulitnya jalan keluar karena api telah mengepung dari segala penjuru.

2. Ancaman erosi
Pada saat hujan turun dan ketika run off terjadi, ketiadaan akar tanah akibat terbakar sebagai pengikat akan menyebabkan tanah ikut terbawa oleh hujan ke bawah yang pada akhirnya potensial sekali menimbulkan bukan hanya erosi tetapi juga longsor.

3. Perubahan fungsi pemanfaatan dan peruntukan lahan
Hutan sebelum terbakar secara otomatis memiliki banyak fungsi sebagai catchment area, penyaring karbondioksida maupun sebagai mata rantai dari suatu ekosistem yang lebih besar yang menjaga keseimbangan planet bumi. Ketika hutan tersebut terbakar fungsi catchment area tersebut juga hilang dan karbondioksida tidak lagi disaring namun melayang-layang diudara. Dalam suatu ekosistem besar, panas matahari tidak dapat terserap dengan baik karena hilangnya fungsi serapan dari hutan yang telah terbakar tersebut.

4. Penurunan kualitas air
Kualitas air yang berubah ini lebih diakibatkan faktor erosi yang muncul di bagian hulu. Ketika air hujan tidak lagi memiliki penghalang dalam menahan lajunya maka ia akan membawa seluruh butir tanah yang ada di atasnya untuk masuk kedalam sungai-sungai yang ada. Akibatnya adalah sungai menjadi keruh.

5. Terganggunya ekosistem terumbu karang
Tebalnya asap menyebabkan matahari sulit untuk menembus dalamnya lautan. Pada akhirnya hal ini akan membuat terumbu karang dan beberapa spesies lainnya menjadi sedikit terhalang untuk melakukan fotosintesa.

6. Sedimentasi di aliran sungai
Tebalnya lumpur yang terbawa erosi akan mengalami pengendapan di bagian hilir sungai. Ancaman yang muncul adalah meluapnya sungai bersangkutan akibat erosis yang terus menerus.

E. Pengaruh Terhadap Hubungan Antar negara

Asap tersebut justru terbawa angin ke negara tetangga sehingga sebagian negara tetangga ikut menghirup asap yang ditimbulkan dari kebakaran di negara Indonesia. Akibatnya adalah hubungan antara negara menjadi terganggu dengan munculnya protes keras dari Malaysia dan Singapura kepada Indonesia agar kita bisa secepatnya melokalisir kebakaran hutan agar asap yang ditimbulkannya tidak semakin tebal. Hilangnya sejumlah spesies dan berbagai dampak yang ditimbulkan ternyata kalah penting dibanding protes keras dari tetangga.


4.2    Cara Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran

1.    Upaya Pencegahan

Memantapkan kelembagaan.
 Melengkapi perangkat lunak berupa pedoman dan petunjuk teknis pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan
Melengkapi perangkat keras berusa peralatan pencegahan dan pemadam kebakaran
Melakukan pelatihan pengendalian kebakaran hutan bagi aparat pemerintah, tenaga BUMN dan perusahaan kehutanan serta masyarakat sekitar hutan
Kampanye dan penyuluhan melalui berbagai Apel Siaga pengendalian kebakaran hutan
Pemberian pembekalan kepada pengusaha (HPH, HTI, perkebunan dan Transmigrasi), Kanwil Dephut, dan jajaran Pemda oleh Menteri Kehutanan dan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Dalam setiap persetujuan pelepasan kawasan hutan bagi pembangunan non kehutanan, selalu disyaratkan pembukaan hutan tanpa bakar.
1.    Upaya Penanggulangan

Memberdayakan posko-posko kebakaran hutan di semua tingkat, serta melakukan pembinaan mengenai hal-hal yang harus dilakukan selama siaga dan I dan II;
Meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait di tingkat pusat melalui PUSDALKARHUTNAS dan di tingkat daerah melalui PUSDALKARHUTDA tk I dan SATLAK kebakaran hutan dan lahan;
Meminta bantuan luar negeri untuk memadamkan kebakaran antara lain:
- Pasukan BOMBA dari Malaysia untuk kebakaran di Riau, Jambi, Sumsel dan Kalbar 
- Bantuan pesawat AT 130 dari Australia dan Herkulis dari USA untuk kebakaran di Lampung 
- Bantuan masker, obat-obatan dan sebagainya dari Negara-negara Asean, Korsel, Cina dan lain-lain.



BAB V

PENUTUP

5.1  Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat kami ambil dari dampak kebakaran hutan bagi ekosistem adalah:

1. Hutan merupakan sumber daya alam yang tidak ternilai harganya karena didalamnya terkandung keanekaragaman hayati sebagai sumber plasma nutfah, sumber hasil hutan kayu dan non-kayu, pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta kesuburan tanah, dan sebagainya

2. Kebakaran hutan menimbulkan kerugian yang sangat besar dan dampaknya sangat luas, bahkan melintasi batas negara. Di sisi lain upaya pencegahan dan pengendalian yang dilakukan selama ini masih belum memberikan hasil yang optimal. Oleh karena itu perlu perbaikan secara menyeluruh, terutama yang terkait dengan kesejahteraan masyarakat pinggiran atau dalam kawasan hutan.

3. Berbagai upaya perbaikan yang perlu dilakukan antara lain dibidang penyuluhan kepada masyarakat khususnya yang berkaitan dengan faktor-faktor penyebab kebakaran hutan, peningkatan kemampuan aparatur pemerintah terutama dari Departemen Kehutanan, peningkatan fasilitas untuk mencegah dan menanggulagi kebakaran hutan, pembenahan bidang hukum dan penerapan sangsi secara tegas.



5.2  Saran

Saran kami ialah, karena hutan merupakan sebagai sumber paru paru dunia maka kita harus menjaganya untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang berada didunia.


DAFTAR PUSTAKA


Erik, Douglas, Robert, David, Barry, Djoko, Titiek, Martjan, Ike, Anna, Tonny, Scott,       Tiene, Timothy. Hutan Pasca Pemanenan.

Tacconi, Luca. Kebakaran Hutan di Indonesia (Penyebab, Biaya dan Implikasi Kebijakan.


http://ipdn-artikelgratis.blogspot.com/2008/11/dampak-kebakaran-hutan-terhadap-keaneka.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar